Penciptaan Manusia
Apabila setiap orang sibuk dengan urusan dirinya, dalam arti memahami serta koreksi aib yang selalu mewarnai karakter dan perjalanan hidupnya. Niscaya akan senantiasa patuh serta tunduk terhadap setiap peraturan yang dibuat oleh Allah (Zat Yang menciptakan langit dan bumi serta isi antara keduanya, termasuk makhluk yang disebut manusia). Sebab manusia diciptakan untuk membawa misi kepemimpinan di planet bumi, guna mengatur serta menata kehidupan yang ada di bumi denganHudan dan Furqan (Al-Qur’an) yang menjadi pegangannya. Itulah fitrah manusia.
Maka untuk memahami tentang diri manusia, tentu tidak semudah belajar ilmu matematika atau lainnya, akan tetapi memerlukan waktu yang sangat serius, karena hal ini menyangkut iman disamping ratio, lain pula ilmu aljabar yang tidak perlu iman.
Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan firman Allah yang menyatakan:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikannya?” (Adz Dzaariyaat 21).
Firman Allah di atas sangat menyentuh setiap orang yang beriman. Karena ayat tersebut menuntun kita untuk memperhatikan wujud diri. Yang dimaksud dengan wujud diri ialah meliputi jasmani dan ruhani, sebagaimana layaknya manusia yang seutuhnya.
Maka apabila sudah memahami maksud ayat tersebut itu. Marilah kita menengok tentang kejadian diri kita, dari awal historis penciptaan manusia pertama (Adam as) hingga kini (anak cucu Adam). “Kemudian Dia menjadikan keturunannya (Adam as) dari saripati air yang hina”. (As Sajdah 8). “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur”. (Al Insaan 2). Dan di dalam hadis menjelaskan:“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan pembentukan (kejadiannya) di dalam rahim ibunya selama empatpuluh hari berupa nutfah (air yang kental berupa sperma), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, lalu menjadi gumpalan seperti daging selama itu juga, hingga diutuslah Malaikat kepadanya, kemudian Malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dengan sekaligus diperintah atau ditentukan (ditetapkan) empat perkara: (yaitu) rizkinya, ajal/umurnya, amal perbuatannya dan ditetapkan ia celaka atau bahagia“.
Manusia adalah sala satu dari sekian banyak jenis makhluk yang diciptakan Allah, kemudian setelah Allah menyempurnakan ciptaan-Nya tersebut, Allah menurunkannya ke bumi, dengan menetapkan tugas manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Maka dengan demikian, jelaslah bahwa manusia itu tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab tentang kepemimpinannya, dan kelak pada “YaumulHisab” (hari peradilan) bagi setiap manusia akan diminta keterangannya serta tanggung jawabnya dihadapan Allah.
Karena manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, maka sudah selayaknya Allah memberi perlengkapan kepada manusia dengan bekal dan sarana lahir batin secukupnya seiring pantauan Allah pada kehidupan manusia dari dunia hingga akhirat.
Pemantauan Allah pada kehidupan manusia maknanya kembali kepada Hadis tersebut di atas, yaitu hal ikhwal: rizki, umur, amal dan takdir baik atau buruk yang meliputinya. Semuanya ada dalam rahasia Allah. Demikianlah pada hakikatnya, termasuk juga alam semesta dan alam pradunia yang pengetahuannya ada di dalam rahasia Allah.
Bagaimanakah cara kita memahami apa yang dimaksud dengan segala sesuatu, termasuk alam pradunia yang berada di dalam Sirrullah (rahasia Allah)…?
Ide yang selalu berputar dan bersemayam pada diri kita bisa dijadikan tamsil alam pradunia. Misalkan kita ingin membuat rumah yang megah, tentu ide tersebut harus dituangkan dengan cara menggambarkannya, katakanlah berbentuk gambar rancang bangun atau maket yang sesuai, maka apabila telah menjadi maket yang persis dan tepat dengan gagasan awal alias skenario yang ada pada dirinya (ide), barulah dijabarkan hingga mewujud rumah yang sesungguhnya.
Demikian pula dengan rencana Allah (walau perumpamaan di atas tidak persis, karena hanya sekedar mendekatkan paham saja). Tetapi Allah itu, tentunya terhindar dari segala kekurangan. Jika manusia merancang sesuatu dapat saja berubah ditengah-tengah pelaksanaannya, maka tidak demikian dengan skenario Allah yang sangat selektif penuangannya pada skenario yang terhimpun di Kitab Lauhul Mahfuzh.Maka hal yang mustahil bila berubah-ubah ketetapan-Nya. Lihatlah secara seksama!. Bukankah tampak dengan jelas terealisasi penjabaran skenario-Nya pada kejadian langit, bumi dan perputaran zaman yang meliputi keberadaan alam semesta, bumi serta yang ada padanya berputar menurut ketentuan skenario-Nya, dirgantara serta bermilyard-milyard bintang dan planet meliputi jutaan galaksi beredar pada garis orbitnya dengan menurut ketentuan skenario-Nya, berbagai macam jenis makhluk ciptaan-Nya bertebaran diseluruh penjuru alam semesta dengan tiada kesamaannya dan bergerak menurut ketentuan skenario-Nya. Dalam konteks ini, yakinilah wahai para salikin, bahwa diantara sekian banyak corak dan martabat ciptaan-Nya, maka golongan manusialah yang mendapatkan martabat tertinggi di antara makhluk ciptaan-Nya. Fitrah menjadi busana manusia dan mahligai khalifah tempat kediamannya.
by cm. hizboel wathony
01-110111